Showing posts with label ecoterrorism. Show all posts
Showing posts with label ecoterrorism. Show all posts

Lagi, Penembak Misterius Beraksi di Timika

Senin, 31 Oktober 2011 01:13

JAYAPURA - Lagi,  aksi penembakan oleh kelompok tak dikenal terjadi di areal jalan tambang PT Freeport Indonesia, Sabtu 29 Oktober sekitar 08.30 WIT, Tepatnya di Mile 36. Meski sempat terjadi adu tembak, tapi tidak ada korban dalam kejadian itu.

Juru Bicara Polda Papua, Kombes Wachyono mengatakan, pelaku menembak mobil patroli anggota TNI. ‘’Pada saat patroli TNI dari cek point 40 melakukan patroli ke mile 36, mereka Mendengar bunyi tembakan dari dalam hutan, setelah mendengar bunyi tembakan patroli TNI melakukan tembakan balasan ke dalam hutan sambil mengejar pelaku penembakan, ke arah bunyi tembakan,’’ ujarnya. Brimob yang berada di mile 40 juga menyusul ke mile 36 dan berusaha melakukan pengejaran. ‘’Hasilnya nihil, pelaku berhasil menghilang di dalam hutan,’’paparnya.

Namun, yang pasti, tidak ada korban dalam kejadian itu, baik dari TNI maupun Brimob.

Sementara itu, Bupati Kabupaten Puncak Jaya Lukas Enembe mendapat surat dari kelompok yang mengaku TPN/OPM dan mengklaim sebagai yang bertanggung jawab atas penembakan terhadap Kapolsek Mulia, Dominggus Otto Awes, sama seperti surat yang diterima Kapolres Puncak Jaya AKBP Alex Korwa.

‘’Saya terima surat itu dari seseorang yang mengakui sebagai wakil komandan operasi OPM bernama Rambo Wonda,’’kata Lukas Enembe, ketika dihubungi via selulernya, Sabtu 29 Oktober.

Isi surat itu kata Enembe ‘’Kami sampaikan kepada Bapak Bupati Puncak Jaya, bahwa yang bertanggung jawab  atas perampasan senjata dan penembakan Kapolsek di 8andara Mulia adalah Kodam X dibawah komandan Purom alias Okinak Wonda. Kalau bapak-bapak TNI dan Polisi mau cari kami, silahkan datang ke Kampung Pilia, kami siap menunggu. Jangan  melakukan operasi di Ligitime sampai Girimuli, kalau mau operasi silahkan kirimkan orang non Papua.’’

Enembe mengakui, kelompok ini diluar komando Goliat Tabuni yang memiliki markas di Yambi dan Tingginambut. ‘’Pusat militer mereka di Pilis daerah Kuyawage di Kabupaten Intan Jaya, memang dulunya mereka dibawah komando kelompok Marunggen, yang sekarang ternyata sudah memiliki komandan baru dan mengatasnamakan Kodam X serta senjata api yang lumayan banyak,’’terangnya.

Menurutnya, Kelompok ini adalah sayap militer OPM, dimana, ada 30 sayap militer mereka, dan dipusatkan di Tingginambut. Lanjut Enembe, saat surat itu disampaian, dirinya sempat memberikan bendera merah putih untuk mereka bawa pulang, tapi ditolak. Mengenai situasi terkahir Puncak Jaya, Enembe menyatakan berangsur pulih, namun/malam hari, Patroli aparat keamanan lebih diintensifkan. (jir/don/l03)

Lagi, Penembak Misterius Beraksi di Timika

Senin, 31 Oktober 2011 01:13

JAYAPURA - Lagi,  aksi penembakan oleh kelompok tak dikenal terjadi di areal jalan tambang PT Freeport Indonesia, Sabtu 29 Oktober sekitar 08.30 WIT, Tepatnya di Mile 36. Meski sempat terjadi adu tembak, tapi tidak ada korban dalam kejadian itu.

Juru Bicara Polda Papua, Kombes Wachyono mengatakan, pelaku menembak mobil patroli anggota TNI. ‘’Pada saat patroli TNI dari cek point 40 melakukan patroli ke mile 36, mereka Mendengar bunyi tembakan dari dalam hutan, setelah mendengar bunyi tembakan patroli TNI melakukan tembakan balasan ke dalam hutan sambil mengejar pelaku penembakan, ke arah bunyi tembakan,’’ ujarnya. Brimob yang berada di mile 40 juga menyusul ke mile 36 dan berusaha melakukan pengejaran. ‘’Hasilnya nihil, pelaku berhasil menghilang di dalam hutan,’’paparnya.

Namun, yang pasti, tidak ada korban dalam kejadian itu, baik dari TNI maupun Brimob.

Sementara itu, Bupati Kabupaten Puncak Jaya Lukas Enembe mendapat surat dari kelompok yang mengaku TPN/OPM dan mengklaim sebagai yang bertanggung jawab atas penembakan terhadap Kapolsek Mulia, Dominggus Otto Awes, sama seperti surat yang diterima Kapolres Puncak Jaya AKBP Alex Korwa.

‘’Saya terima surat itu dari seseorang yang mengakui sebagai wakil komandan operasi OPM bernama Rambo Wonda,’’kata Lukas Enembe, ketika dihubungi via selulernya, Sabtu 29 Oktober.

Isi surat itu kata Enembe ‘’Kami sampaikan kepada Bapak Bupati Puncak Jaya, bahwa yang bertanggung jawab  atas perampasan senjata dan penembakan Kapolsek di 8andara Mulia adalah Kodam X dibawah komandan Purom alias Okinak Wonda. Kalau bapak-bapak TNI dan Polisi mau cari kami, silahkan datang ke Kampung Pilia, kami siap menunggu. Jangan  melakukan operasi di Ligitime sampai Girimuli, kalau mau operasi silahkan kirimkan orang non Papua.’’

Enembe mengakui, kelompok ini diluar komando Goliat Tabuni yang memiliki markas di Yambi dan Tingginambut. ‘’Pusat militer mereka di Pilis daerah Kuyawage di Kabupaten Intan Jaya, memang dulunya mereka dibawah komando kelompok Marunggen, yang sekarang ternyata sudah memiliki komandan baru dan mengatasnamakan Kodam X serta senjata api yang lumayan banyak,’’terangnya.

Menurutnya, Kelompok ini adalah sayap militer OPM, dimana, ada 30 sayap militer mereka, dan dipusatkan di Tingginambut. Lanjut Enembe, saat surat itu disampaian, dirinya sempat memberikan bendera merah putih untuk mereka bawa pulang, tapi ditolak. Mengenai situasi terkahir Puncak Jaya, Enembe menyatakan berangsur pulih, namun/malam hari, Patroli aparat keamanan lebih diintensifkan. (jir/don/l03)

Forum Perlawanan Terhadap Freeport Dibentuk

Jumat, 28 Oktober 2011 01:02 


Pembakaran spanduk bergambarkan bendera Amerika Serikat dan logo PT Freeport


JAYAPURA – Sejumlah organisasi kemahasiswaan, baik intra maupun ekstra kampus, Kamis (27/10) kemarin di halaman parkir samping gedung administrasi Universitas Cenderawasih, bersama-sama dengan KNPB (Komite Nasional Papua Barat) secara resmi mendeklarasikan berdirinya gerakan untuk melawan PT Freeport, yang menurut mereka dinilai memunculkan banyak masalah di Papua. Dengan menggelar dua spanduk besar dan salah satunya bergambarkan bendera Amerika Serikat yang digabung dengan logo PT Freeport, gerakan yang diberi nama Gerakan Rakyat Lawan Kejahatan Freeport (Gerklaf), langsung ditunjuk sebagai koordinator gerakan adalah Fanny Kogoya dan Bovid Befa sebagai Sekretaris. Deklarasi yang diakhiri dengan pembakaran spanduk bergambar bendera Amerika Serikat tersebut, adalah sebagai bentuk perlawanan terhadap keberadaan PT Freeport yang dinilainya cikal bakal adanya kontrak politik antara AMERIKA Serikat dengan sekutunya untuk mempertahankan Papua dalam NKRI.

Yang mana dalam spanduk yang dibuat oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB) tersebut bertuliskan “Pencaplokan wilayah Papua oleh Ir. Soekarno 1963, perjanjian New York & Roma 1962, Kontrak karya PT FI 1967, Peppera 1969, John F Kenedy & Proposal Bunker, resolusi 2504, yang didasar spanduk tertulis Aktor Pemusnahan Rakyat Papua.
Sebelum pendeklarasian, delapan pimpinan organisasi mahasiswa dan Ketua I KNPB, Mako Tabuni melakukan orasi-orasi untuk mengajak para mahasiswa yang ada di sekitar tempat deklarasi untuk mendukung gerakan yang dibentuknya.

Berbagai orasi yang menyudutkan PT Freeport dan Amerika Serikat, diungkapkan di depan sekitar 50 orang mahasiswa yang tampak menonton jalannya deklarasi.
Termasuk dukungan kepada para karyawan PT Freeport. “Mari kita peduli pada para buruh Freeport. Amerika yang mengaku diri sebagai pahlawan HAM itu omong kosong,” ungkap Fredy C Rumbiak dari Forum Komunikasi Mahasiswa Pelajar Mimika.

Fanny Kogoya selaku coordinator gerakan menyatakan akan melakukan konsolidasi ke seluruh Tanah Papua untuk memperluas gerakan tersebut. “Kita akan konsolidasi ke seluruh tanah papua untuk melakukan perlawanan terhadap Freeport,” ungkapnya dalam orasinya sesaat setelah ditunjuk sebagai koordinator.

Rencana renegoisasi oleh Pemerintah terkait kontrak karya Freeport, menurutnya harus melibatkan orang asli Papua.

Dalam deklarasinya yang dibacakan Bovid selaku sekretaris, meski muncul statement untuk mengusir PT Freeport dari Papua, namun juga menyatakan bahwa Freeport harus menjadi milik rakyat Papua, yang tertuang dalam spanduk deklarasi. Yang mana Rakyat Papua harus berdaulat atas kekayaan alamnya.(aj/ven/don/l03)

Selama Oktober 7 Tewas di Areal Freeport

Written by Loy/Papos    

Tuesday, 25 October 2011 00:00

JAYAPURA [PAPOS] – Selama bulan Oktober 2011 di areal PT Freeport Indonesia sudah 7 orang tewas yang dilakukan sekelompok orang tak dikenal.

“Sejak tanggal 1 hingga 21 Oktober, kami sudah menerima 3 laporan Polisi tentang penembakan di areal PT Freeport Indonesia. akibat kejadian 7 orang meninggal dunia,” papar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua, Komisaris Besar Wachyono saat dikonfirmasi wartawan, Senin [24/10].

Menurut Kabid Humas, selain menimbulkan 7 korban jiwa meninggal dunia, kejadian di Freeport juga membuat 8 orang lainnya mengalami luka-luka. ”Mereka rata-rata mengalami luka tembak,” paparnya.

Atas terjadinya kasus ini menurut Wachyono, penyidik telah mendalaminya dengan melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi sebanyak 28 orang. diantaranya, 20 karyawan Freeport dan anggota SPSI Timika, serta 8 orang dari Polri. Sedangkan barang bukti yang ditemukan di TKP ada 14 selongsong peluru dan satu peluru masih utuh.“Barang kali mungkin saksi-saksi mengetahui ciri-ciri para pelakunya,” tandasnya.

Ketika disinggung apakah aparat sudah mengetahui pelaku penembakan? Kabid Humas mengatakan, pihaknya enggan berandai-andai soal siapa pelaku penembakan mengingat aparat belum berhasil menangkap para pelakunya. “Kami belum bisa menyebut kelompok pelaku, entah dari OPM atau kelompok separatis, karena kami belum menangkap pelakunya, tapi yang jelas pelaku merupakan kelompok kiminal bersenjata yang harus ditangkap dan di proses hukum,” tukasnya.

Soal apakah penembakan di arel Freeport ada kaitanya dengan aksi demo karyawan Freeport. Kabid Humas menyatakan, kasus ini tidak ada kaitannya dengan aksi mogok kerja karyaaan PT. Freeport, karena mogok kerja tersebut adalah internal antara Karyawan dengan PT Freeport.“ Saya pikir tidak ada hubungan aksi mogok kerja dengan penembakan di Freeport,” katanya [loy]

Selama Oktober 7 Tewas di Areal Freeport

Written by Loy/Papos    

Tuesday, 25 October 2011 00:00

JAYAPURA [PAPOS] – Selama bulan Oktober 2011 di areal PT Freeport Indonesia sudah 7 orang tewas yang dilakukan sekelompok orang tak dikenal.

“Sejak tanggal 1 hingga 21 Oktober, kami sudah menerima 3 laporan Polisi tentang penembakan di areal PT Freeport Indonesia. akibat kejadian 7 orang meninggal dunia,” papar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua, Komisaris Besar Wachyono saat dikonfirmasi wartawan, Senin [24/10].

Menurut Kabid Humas, selain menimbulkan 7 korban jiwa meninggal dunia, kejadian di Freeport juga membuat 8 orang lainnya mengalami luka-luka. ”Mereka rata-rata mengalami luka tembak,” paparnya.

Atas terjadinya kasus ini menurut Wachyono, penyidik telah mendalaminya dengan melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi sebanyak 28 orang. diantaranya, 20 karyawan Freeport dan anggota SPSI Timika, serta 8 orang dari Polri. Sedangkan barang bukti yang ditemukan di TKP ada 14 selongsong peluru dan satu peluru masih utuh.“Barang kali mungkin saksi-saksi mengetahui ciri-ciri para pelakunya,” tandasnya.

Ketika disinggung apakah aparat sudah mengetahui pelaku penembakan? Kabid Humas mengatakan, pihaknya enggan berandai-andai soal siapa pelaku penembakan mengingat aparat belum berhasil menangkap para pelakunya. “Kami belum bisa menyebut kelompok pelaku, entah dari OPM atau kelompok separatis, karena kami belum menangkap pelakunya, tapi yang jelas pelaku merupakan kelompok kiminal bersenjata yang harus ditangkap dan di proses hukum,” tukasnya.

Soal apakah penembakan di arel Freeport ada kaitanya dengan aksi demo karyawan Freeport. Kabid Humas menyatakan, kasus ini tidak ada kaitannya dengan aksi mogok kerja karyaaan PT. Freeport, karena mogok kerja tersebut adalah internal antara Karyawan dengan PT Freeport.“ Saya pikir tidak ada hubungan aksi mogok kerja dengan penembakan di Freeport,” katanya [loy]

Papua Indonesia

Facebook Status RSS Feed Filter