Showing posts with label opini publik. Show all posts
Showing posts with label opini publik. Show all posts

Rakyat Papua Perlu Awasi UP4B

inggu, 13 November 2011 21:35

JAYAPURA—Apabila kalangan Dewan Perwakilan Daerah (DPR) Papua menolak tegas kebijakan pemerintah pusat membentuk Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat (UP4B), namun lain halnya dengan Koordinator Program Institute Civil Strenghening (ICS) Papua Yusack Reba SH MH. Ia mengatakan mendukung kebijakan UP4B tersebut.

Hanya saja kata dia, kebijakan UP4B membutuhkan banyak tenaga dan perhatian untuk mengawasi seluruh implementasi kebijakan UP4B sehingga anggaran pembangunan triliuan rupiah yang nantinya dialokasikan pemerintah pusat tepat sasaran.

Karena itu, peran berbagai komponen masyarakat juga menjadi penting. “Ini kan kita belum melihat UP4B akan berhasil atau tidak,” katanya kepada Bintang Papua, kemarin. Katanya, pihaknya melihat kebijakan yang dilakukan pemerintah pusat dalam kaitan dengan UP4B. Kebijakan UP4B karena pemerintah pusat melihat selama ini implementasi pembangunan di Provinsi Papua dan Papua Barat itu belum dilaksanakan sebagaimana harapan dalam penyelenggaraan pemerintahan.

“Artinya pembangunan pembangunan yang dijalankan di daerah apalagi dalam konteks Otsus belum efektif sehingga pemerintah membuat suatu kebijakan untuk mempercepatnya,” ujarnya. “Artinya kalau kita balik berarti proses pembangunan di kedua wilayah ini berjalan lambat. Apalagi mempunyai kaitan dengan implementasi Otsus.”

Dijalaskannya, dari sisi kebijakan bahwa pemerintah pusat melihat bahwa pelaksanaan pembangunan kurang lebih 10 tahun implementasi Otsus sebenarnya kurang optimal.

“Kebijakan UP4B mungkin tak pernah ada jika kemudian pelaksanaan pembangunan di Provinsi Papua maupun Papua Barat itu tercapai sebagaimana apa yang diharapkan pemerintah pusat,” ucapnya.

Namun, dia mengatakan, pihaknya optimis UP4B bisa menyelesaikan persoalan di kedua provinsi, tapi syaratnya harus bersinergi dengan pemerintah daerah provinsi maupun kabupaten/kota di Provinsi Papua dan Papua Barat.

“Ini yang sebenarnya kita harapkan sebab kalau tidak saya juga agak ragu jangan sampai kemudian UP4B ini menimbulkan ketidaksinergian antara pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota di Provinsi dengan pemerintah pusat,” ujarnya. “Jangan sampai muncul sikap acuh tak acuh rakyat Papua terhadap berbabagai kebijakan yang dilakukan terkait UP4B.

Artinya, lanjutnya, dalam program program atau kebijakan kebijakan yang dilakukan pemerintah pusat untuk percepatan pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat itu ada sejumlah hal dalam pelbagai sektor yang akan dilakukan oleh pemerintah pusat untuk mempercepat pembangunan di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Terkait penilaian sejumlah kalangan bahwa kebijakan UP4B ini membuat alokasi dana akan mengalir ke Tanah Papua, tambahnya, pihaknya juga sependapat bahwa berkaitan dengan kebijakan UP4B maka pemerintah pusat akan mengalokasikan anggaran yang lebih besar lagi untuk mempercepat pembangunan di Provinsi Papua dan Papua Barat.


Menurut dia, kebijakan UP4B ini juga merupakan suatu pukulan bagi pemerintah daerah sehingga hal ini menjadi evaluasi menyangkut kinerja pemerintahan daerah.

“Bila pencapaian program pembangunan di di Provinsi Papua dan Papua Barat sebenarnya tak perlu ada kebijakan UP4B.

Dosen Fakultas Hukum Uncen Jayapura ini juga mengatakan, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono telah mengeluarkan Peraturan Presiden No 65 Tahun 2011 Tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat disusul Peraturan Presiden No 66 Tahun 2011 Tentang UP4B. (mdc/don/l03)

Gereja Nilai TNI Pelihara Konflik di Papua

TUESDAY, 14 JUNE 2011 21:56 MUSA HITS: 43

JUBI --- Ketua sinode Kingmi di Jayapura, Papua, Beny Giay menilai hingga kini Tentara Nasional Indonesia di Papua masih memelihara konflik dan kekerasan di Papua. Tapi juga, mereka memelihara emosi dari orang Papua untuk menyuarakan ‘Merdeka.’

Menurutnya, pemeliharaan tersebut sudah terbukti. Pada 2005, Menkokesra bertandang ke Paniai meminta Tadius Yogi, pimpinan Organisasi Papua Merdeka di kawasan itu menyerah. Namun, pimpinan Kodam di Jayapura menyuruh dua orang untuk meminta agar Tadius Yogi tak menyerah. “Kodam waktu itu suruh dua orang untuk tahan dia agar tidak mengaku,” kata Beny kepada JUBI di Abepura, Selasa (14/6) sore.

Selain itu, aparat TNI juga pernah mendidik salah satu orang Papua atas nama Antonius. Dia ditraning di Surabaya lalu difasilitasi dengan senjata, kemudian dia disuruh ke Mimika. Ketika disana, keadaan Mimika tidak aman. “Tindakan-tindakan seperti ini menandakan mereka pelihara emosi orang Papua agar tetap berkelahi. Konflik tetap dipelihara. Selain itu, terus menerus menuntut merdeka lantaran diperlakukan tak ada adil. baik oleh TNI sendiri maupun orang yang sudah dilatih,” cetusnya.

Ditambahkan Beny, semua pihak perlu mengambil tindakan untuk menyikapi persoalan tersebut. Jika tak demikian, warga sipil tetap diaduhdomba. Konflik bakal terus berkepanjangan. “Hal ini harus disikapi secepatnya oleh semua pihak,” tandasnya. (Musa Abubar)

Gereja Nilai TNI Pelihara Konflik di Papua

TUESDAY, 14 JUNE 2011 21:56 MUSA HITS: 43

JUBI --- Ketua sinode Kingmi di Jayapura, Papua, Beny Giay menilai hingga kini Tentara Nasional Indonesia di Papua masih memelihara konflik dan kekerasan di Papua. Tapi juga, mereka memelihara emosi dari orang Papua untuk menyuarakan ‘Merdeka.’

Menurutnya, pemeliharaan tersebut sudah terbukti. Pada 2005, Menkokesra bertandang ke Paniai meminta Tadius Yogi, pimpinan Organisasi Papua Merdeka di kawasan itu menyerah. Namun, pimpinan Kodam di Jayapura menyuruh dua orang untuk meminta agar Tadius Yogi tak menyerah. “Kodam waktu itu suruh dua orang untuk tahan dia agar tidak mengaku,” kata Beny kepada JUBI di Abepura, Selasa (14/6) sore.

Selain itu, aparat TNI juga pernah mendidik salah satu orang Papua atas nama Antonius. Dia ditraning di Surabaya lalu difasilitasi dengan senjata, kemudian dia disuruh ke Mimika. Ketika disana, keadaan Mimika tidak aman. “Tindakan-tindakan seperti ini menandakan mereka pelihara emosi orang Papua agar tetap berkelahi. Konflik tetap dipelihara. Selain itu, terus menerus menuntut merdeka lantaran diperlakukan tak ada adil. baik oleh TNI sendiri maupun orang yang sudah dilatih,” cetusnya.

Ditambahkan Beny, semua pihak perlu mengambil tindakan untuk menyikapi persoalan tersebut. Jika tak demikian, warga sipil tetap diaduhdomba. Konflik bakal terus berkepanjangan. “Hal ini harus disikapi secepatnya oleh semua pihak,” tandasnya. (Musa Abubar)

Pemerintah Diminta Selesaikan Kasus HAM di Papua

JAYAPURA-Pemerintah pusat didesak untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Tanah Papua yang penyelesaian hukumnya belum jelas. Menurut Koordinator Umum Bersatu Untuk Keadilan (BUK) Peneas Lokbere, sejumlah kasus pelanggaran HAM seperti peristiwa Biak pada 6 Juli 1998, kasus Wamena 6 Oktober 2000 dan 4 April 2003, Abepura Berdarah 7 Desember 2000, peristiwa Wasior 13 Juni 2001, penculikan dan pembunuhan Theys Hiyo Eluay serta penghilangan sopirnya Aristoteles Masoka 10 November 2001, Abepura 16 Maret 2006 dan penembakan Opinus Tabuni 9 Agustus 2008, hingga saat ini belum ada penyelesaiannya.

“Tanggung jawab negara dimana terhadap para korban peristiwa kekerasan dan pelanggaran HAM terberat di Tanah Papua. Sebenarnya kalau ini tidak ditanggapi kami akan meminta dukungan internasional. Sebab tidak adanya upaya baik dari pemerintah pusat,” terangnya saat menggelar jumpa pers di Kantor Kontras Papua di Padang Bulan, Selasa (14/6).

Disamping mendesak pemerintah pusat, BUK juga mengaharapkan agar pemerintah daerah yaitu Pemprov Papua dan DPRP untuk menanyakan langsung mengenai upaya penyelesaian kasus-kasus tersebut ke pemerintah pusat.

“Pemprov Papua, DPRP, Komnas HAM Papua dan MRP perlu mengambil langkah nyata untuk mendorong kasus Wasior dan Wamena ke Pengadilan HAM. Selain itu mengevaluasi kejahatan negara di tanah Papua serta membentuk pengadilan HAM di Tanah Papua. Apabila hal ini tidak mendapat perhatian, maka kasus-kasus ini akan kamu ajukan dan persoalkan ke dunia internasional,” tegasnya. (fan/nat)

Pemerintah Diminta Selesaikan Kasus HAM di Papua

JAYAPURA-Pemerintah pusat didesak untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Tanah Papua yang penyelesaian hukumnya belum jelas. Menurut Koordinator Umum Bersatu Untuk Keadilan (BUK) Peneas Lokbere, sejumlah kasus pelanggaran HAM seperti peristiwa Biak pada 6 Juli 1998, kasus Wamena 6 Oktober 2000 dan 4 April 2003, Abepura Berdarah 7 Desember 2000, peristiwa Wasior 13 Juni 2001, penculikan dan pembunuhan Theys Hiyo Eluay serta penghilangan sopirnya Aristoteles Masoka 10 November 2001, Abepura 16 Maret 2006 dan penembakan Opinus Tabuni 9 Agustus 2008, hingga saat ini belum ada penyelesaiannya.

“Tanggung jawab negara dimana terhadap para korban peristiwa kekerasan dan pelanggaran HAM terberat di Tanah Papua. Sebenarnya kalau ini tidak ditanggapi kami akan meminta dukungan internasional. Sebab tidak adanya upaya baik dari pemerintah pusat,” terangnya saat menggelar jumpa pers di Kantor Kontras Papua di Padang Bulan, Selasa (14/6).

Disamping mendesak pemerintah pusat, BUK juga mengaharapkan agar pemerintah daerah yaitu Pemprov Papua dan DPRP untuk menanyakan langsung mengenai upaya penyelesaian kasus-kasus tersebut ke pemerintah pusat.

“Pemprov Papua, DPRP, Komnas HAM Papua dan MRP perlu mengambil langkah nyata untuk mendorong kasus Wasior dan Wamena ke Pengadilan HAM. Selain itu mengevaluasi kejahatan negara di tanah Papua serta membentuk pengadilan HAM di Tanah Papua. Apabila hal ini tidak mendapat perhatian, maka kasus-kasus ini akan kamu ajukan dan persoalkan ke dunia internasional,” tegasnya. (fan/nat)

Membongkar Mitos Politik Gunung

Ditulis oleh Lamadi de Lamato  

SATU persatu, nama-nama kandidat gubernur provinsi Papua mulai menampakan “batang hidungnya”. Muka-muka calon orang nomor wahid Papua ke depan, ada yang muka baru dan juga ada pemain lama. Yang termasuk baru, seperti, (1). Klemen Tinal (bupati kabupaten Mimika (2), Habel Melkias Suwae (bupati kabupaten Jayapura- juga ketua partai Golkar DPD Provinsi Papua), (3), Johanis Karubaba (kepala dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Papua), (4), Manase Robert Kambu (mantan walikota Jayapura).

Khusus nama nomor (3) dan (4),tampak mereka masih malu-malu. Hal itu terlihat dari baliho mereka yang beberapa kali sempat juga muncul di jalan-jalan utama tapi dengan cepat hilang. Yang paling kontras, balihonya Johanis Karubaba yang tidak awet. Baru dipasang, seharinya sudah dirusak. Sementara, muka lama dengan kekuatan baru hanya Lukas Enembe (bupati Puncak Jaya sekaligus ketua DPD partai Demokrat Provinsi Papua) yang pada Pilgub 2006 kalah tipis dari gubernur Barnabas Suebu. Muka lama lain yakni John Ibo atau JI ini masih belum nampak. Walaupun tidak pamer muka di baliho, JI dalam desas desus di isukan akan maju juga.
Nama di atas masih akan mungkin bertambah, dan bisa juga ada yang gugur bila melihat peta politik yang belum bisa di prediksi secara pasti. Karena itu, bagi yang ingin tahu kandidat resmi, tampaknya kita perlu bersabar sejenak. Namun yang jelas, bila tidak ada aral menghadang, bulan November publik sudah bisa tahu calon-calon gubernur yang resmi maju plus wakil-wakilnya.
Sambil menanti proses-proses politik yang berjalan, diskursus politik gunung versus pantai telah lama menjadi obrolan warung kopi di kalangan masyarakat. Mengapa kita perlu mengulas wacana gunung versus pantai pada Pilgub 2011? Pertama, ini realitas politik lokal yang penuh sejarah, emosional dan mitos yang melatarinya. Kedua, politik gunung versus pantai ini seperti beritanya Wikilieks yang kontroversi tapi dibutuhkan karena faktual.

Politik gunung atau koteka disebut-sebut pertama kali muncul saat majunya Lukas Enembe – yang saat itu hanyalah seorang wakil bupati Puncak Jaya – dalam Pilgub 2006, tapi ia kalah tipis dari Barnabas Suebu. LE –nama akrab dari Lukas Enembe – di representasikan sebagai satu-satunya figur gunung pada saat itu, dan mungkin juga sekarang.

Memang bukan LE saja yang berasal dari gunung, tapi ada Alex Hesegem, Donatus Mote dan Paskalis Kossay. Namun nama-nama terakhir itu hanya berposisi sebagai orang kedua (calon wakil gubernur). Wajar bila simpati dan simbol gunung disematkan kepada LE, yang pada Pilgub kali ini (2011-2016) ia kembali maju sebagai salah satu kandidat. Bahkan, ia yang pertama kali mengantongi restu resmi dari pusat daripada kandidat yang lain.

Sekedar informasi, politik yang di dasarkan pada primordialisme dan sentimen emosional sesungguhnya adalah politik irasional. Pasalnya, pemilih tidak memandang program dalam memilih, tapi pemilih mendasarkan pilihannya pada ikatan-ikatan kesamaan, baik itu kesukuan, agama maupun idiologi-idiologi tertentu. Pertanyaan yang perlu dikemukakan, masih ada kah politik irasional  pada Pilgub 2011? Jawabannya masih tetap ada dan tidak mungkin dibendung.
John Naisbith, menyebutnya sebagai penyakit demokratisasi yakni suburnya sentimen emosional dan primordialisme di era informasi dan keterbukaan. Penulis buku Mega Trend 2000 itu mengaku bahwa sentimen di atas sangat subur, dan politik masa depan negara-negara dengan sistem demokratisasi tidak mungkin keluar dari logika tersebut.

Karena itu, Pilgub 2011 tidak mungkin menafikan politik gunung versus pantai. Bagai Wikilieks, gunung dan pantai ini hanya diskusi di kalangan masyarakat kecil, dan dilarang untuk di besar-besarkan karena hal ini sama dengan kita membangun dikotomi yang tidak mendidik. Kalangan elit sangat melarang dikotomi gunung dan pantai menjadi isu yang dipertentangkan. Namun di kalangan grass-root, gunung versus pantai adalah konsumsi politik 2011 yang menarik diperbincangkan.

Wikilieks pernah memberitakan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama kroninya menyalahgunakan kekuasaan (power abuse), tapi oleh pihak istana, wikilieks disebut membuat berita sampah. Namun di kalangan masyarakat kecil, berita wikilieks ini adalah cerita sehari-hari masyarakat. Inilah kenapa, penulis menyamakan diskusi gunung versus pantai ini mirip dengan beritanya Wikilieks dimana di tingkat elit dibantah atau diharamkan, tapi di lapisan bawah hal itu menjadi buah bibir yang umum dan tak terbantahkan.

Dari isu-isu itu, tampaknya isu gunung atau saatnya orang gunung menjadi gubernur adalah kampanye yang paling menarik. Masihkah, isu ini dipakai oleh kandidat Gubernur yang berasal dari gunung? Sangat mungkin ia. Belajar dari LE, yang pada Pilgub 2006 diidentikan dengan politik gunung, maka kemungkinan besar dalam Pilgub 2011 kali ini pun, isu ini akan digunakan oleh kandidat lain.

Basis suara gunung agak berbeda dengan pantai. Gunung relatif solid karena kesamaan sejarah dalam membongkar mitologi politik yang mengkerangkengnya. Orang gunung telah lama di identikan dengan kaum yang tertinggal, terbelakang dan tidak mampu dalam berbagai bidang pembangunan. Stigma ini menyakitkan dan tidak mengenakan. Karena itu, untuk membantahnya, orang gunung harus tampil dan membuktikannya dengan cara yang elegan.

Saat ini, hanya jabatan gubernur Papua saja orang gunung belum pernah mencicipinya. Selain itu, hampir semua bidang pasti ada peran orang gunung. Karena itu, mitos orang gunung tidak mampu, terbelakang dan tertinggal telah rontok. Satu-satunya, mitos yang masih tersisa yang belum mampu dibongkar orang gunung adalah menjadi gubernur provinsi Papua.

Mencermati kontestasi politik terkini, nampaknya suara gunung yang mayoritas akan terpecah belah, bila ada lebih dari satu calon gubernur orang gunung yang maju dalam Pilgub 2011. Saat ini saja, politik klaim dengan basis gunung telah ramai diperebutkan. Setiap kandidat yang datang di daerah gunung, pasti di daulat menjadi kepala suku tertentu. Karena itu, kita pantas bingung. Siapa sesungguhnya figur gunung yang paling merakyat dan mewakili personifikasi politik orang gunung nanti?

Musyawarah KNPI (Komite Nasional Pemuda)  Provinsi Papua tahun 2010 bisa menjadi pelajaran dalam menguji peta soliditas politik gunung, yang komplit dalam konteks kesamaan sejarah tapi tumbang. Suara gunung yang mayoritas ternyata dalam urusan politik sangat sulit di satukan dengan sentimen-sentimen di atas.

Mungkin hanya penulis, yang mengait-ngaitkan Pilgub dengan pesta demokrasi pemuda yang telah usai beberapa bulan silam. Dan bisa jadi anilisis tersebut ahistoris, tapi referensi politik pemuda penting untuk dijadikan bahan agar kita tidak salah dalam merebut suara gunung, yang memang dalam prosentase suara sangat signifikan. Karena itu, tidak heran bila dalam Pilgub 2011, suara gunung adalah incaran semua kandidat termasuk Habel Melkias Suwae, yang bukan berasal dari gunung.

HMS – nama akrab Habel Melkias Suwae – di kabarkan sangat populer di pesisir, tapi di gunung ia tidak terlalu di kenal. Karena itu, pekerjaan besar HMS adalah, bagaimana ia harus dikenal di daerah gunung. Karena kalau tidak, Golkar yang berdasarkan figur dengan polling suara terbanyak dapat diambil kader Golkar lain yang populer di gunung.

Di luar analisis itu, suara gunung dan figurnya tampak masih ‘penasaran’ dengan mitos belum pantas menjadi gubernur. Mitos itu sebenarnya sudah rontok bila LE  yang terpilih pada Pilgub 2006. Sayang LE belum terpilih karena dihadang politicking. Karena itu, apakah kah sejarah orang gunung menjadi gubernur pada Pilgub 2011 akan kembali gagal? Pertanyaannya inilah yang harus dijawab para kandidat yang merasa berasal dari gunung.

Adalah LE, KT dan AH, yang akan membuktikannya nanti. Siapa diantara mereka yang mempersonifikasikan hasrat, moral dan jiwa orang gunung dalam merontohkan atau membongkar mitos orang gunung harus menjadi gubernur? Isu gunung masih akan tetap menarik, dan pemilihnya pun tidak berarti hanya berasal dari gunung. Banyak sekali diluar orang gunung, yang akan tertarik dengan isu tersebut. Banyak yang mempersepsikan isu gunung bukan semata-mata primordialisme, tapi isu gunung juga adalah bagian dari representasi kelompok terpinggir yang ingin di akui dalam kontestasi politik lokal.

Bila orang gunung yang terpilih maka pekerjaan berikutnya adalah menjaga dan meyakinkan publik yang mulai membangun persepsi bahwa amat sangat berbahaya bila orang gunung yang menjadi gubernur. Alasan publik terlalu banyak untuk dijelaskan disini. Namun yang jelas, jalan orang gunung memimpin Papua sangat terbuka luas asalkan figur dimaksud memahami problematika pembangunan di Papua dan menjawabnya dengan komitmen dan perbuatan konkrit.

(*) Direktur La-Keda Institute, Papua
Rabu, 06 April 2011 23:08

Papua Indonesia

Facebook Status RSS Feed Filter