Showing posts with label eksistensi madat. Show all posts
Showing posts with label eksistensi madat. Show all posts

Selamatkan Manusia dan Hutan Papua

JUBI --- Kampanye 'Selamatkan Manusia dan Hutan Papua' jelang hari Lingkungan Hidup sedunia (World Environment Day) 5 Juni 2011 agaknya relevan. Berbagai pihak yang peduli lingkungan di Papua serukan, agar hutan dan manusia Papua tidak punah.

Aktivis Forest Compaigner, Greenpeace SEA Indonesia, Richarth Charles Tawaru kepada Jubi mengatakan, pembangunan di Papua, semestinya mempertimbangkan aspek SDA (Sumber Daya Alam) dan kesejahteraan masyarakat adat.

"Pada prinsipnya kita tidak menolak pembangunan. Tapi pembangunan itu harus seimbang dengan pemanfaatan SDA. Hari lingkungan hidup ini kita merefleksikan untuk menyelamatkan lingkungan hidup, dan kesejahteraan masyarakat adat," kata Charles di Jayapura, Papua. Jumat, 3 Juni 2011 siang.

Papua merupakan salah satu penyedia areal hutan yang masih dibutuhkan dunia selain hutan di Brazil, dan di Kongo. Namun di era Otonomi Khusus (Otsus) seiring perkembangan wilayah, pembangunan, program Merauke Intergrated Food and Energy Estate (MIFEE) dan pemekaran justru menjadikan hutan Papua kian dikeruk. Menurut Charles, sejak 2009, hutan Papua tersisa 42 juta hektar. Tahun 2010, sedikitnya tersisa 39 juta hektar dari jumlah areal hutan yang ada. Maka, perlu dijaga yang tersisa. Setidaknya, untuk memperluas pembangunan, dan program pemukinan warga, kata dia, pemerintah mesti menggunakan lahan kritis yang kini seluas sekitar 3 juta hektar, yang tersebar di Papua dan Papua Barat semisal Merauke dan Manokwari.

"Ini membutuhkan komitmen dari pemerintah Papua dan Papua Barat. Jangan lagi membuka hutan." lanjutnya.

Lanjut dia, Isu REDD (Reducing Emission from Deforestation and Degradation), yang difokuskan pada isu stabilisasi konsentrasi gas rumah kaca (emisi) pada sektor industri. Di COP 13 Bali, yang diperkuat COP 15 di Kopenhagen tahun lalu mesti dipertimbangkan juga. Di Indonesia, Papua di bagian timur adalah provinsi yang paling siap untuk melaksanakan Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan ini. Ini dimungkinkan karena dari 42 juta hektar, hutan Papua ternyata bisa menyimpan lebih dari 400 ton karbon bagi kelangsungan hidup di bumi. Bagi Charles, REDD perlu ada mekanisme dan skema yang jelas agar bisa mensejahterakan masyarakat adat Papua.

"Pada pertengahan Mei lalu, presiden SBY resmikan moratorium hutan di Papua. Saya harap, ini serius, ada mekanisme dan skema yang jelas," harap Charles Tawaru. (Timo Marten)

Di Asmat Banyak Anak Sekolah Dorong Gerobak

ASMAT [PAPOS]- Musim tahun ajaran baru baru saja dimulai beberapa pecan lalu. Namun satu warna kehidupan baru bagi warga masyarakat umum adalah sebagian dari siswa tersebut bekerja paruh waktu sebagai tenaga buruh ‘dorong gerobak’.

“Pak kami kerja cari uang,” jawab salah siswa baru, kepada Kepala Sekolah SMA Negeri Agats, Leonardus Serewi.

Diceritakan kembali Serewi, rata-rata siswa baru (kelas x SMA maupun SMP, tahun pelajaran 2010/2011) bekerja paruh waktu diluar jam sekolah. “tapi ada juga siswa yang kerja jam sekolah, karena mereka tidak bisa mendapat makan dan minum baik,” ungkap Kepsek kepada Papos kemarin.

Dikatakan para siswa pendorong gerobak tersebut berasal dari tingkatpuluhan kampung dan 8 distrik yang tersebar di wilayah itu. “Kasian mereka rata-rata berasal dari keluarga yang tak mampu secara ekonomi,” papar Serewi berprihatin.

Kata dia, seharusnya para siswa tersebut harus mendapat perahtian secara khusus oleh lembaga pemerintah ataupun swasta dari manapun. “Kalau tidak ada perhatian, cita-cita sekolah mereka akan teranggu. Bisa juga mereka akan putus sekolah akibat tidak bisa makan dan minum secara baik dan teratur,” paparnya.

Menurut Serewi, sementara ini para siswa-siswi SMA maupun SMP asal kampung tersebut mendiami pondok-pondok rumah beratap daun pandan yang dibuat oleh para siswa sendiri secara darurat (Befak). “Selain di befak, ada juga siswa yang tinggal dengan kenalan, keluarga dan kerabat mereka di sekitar kota agats ini,” jelas Serewi.

Lanjutnya, sejauh ini pihaknya hanya memberi semangat dan motivasi belajar demi masa depan dan cita-cita para siswa bersangkutan. “Untuk memberikan bantuan kepada mereka, saya sendiri rasanya belum berkecukupan. Yang bisa saya lakukan hanya memberikan motifasi kepada mereka. Saya sendiri tidak bis melarang mereka untuk bekerja karena itu hak mereka untuk mencari hidup. Saya berharap kedepannya ada suatu lembaga yang memang peduli terhadap mereka dan memberikan kehidupan yang layak. Ini anak Asmat, berikanlah kesejahteraan bagi generasi penerus agar nantinya merekalah yang bisa membawa Asmat menuju gerbang kesuksesan,”tandasnya. [cr-57]

Ditulis oleh Cr-57/Papos   
Selasa, 31 Agustus 2010 00:00

Papua Indonesia

Facebook Status RSS Feed Filter